Dugaan praktik monopoli layar bioskop kembali mencuat ke permukaan, memicu perhatian publik dan perdebatan sengit di kalangan industri perfilman nasional. Polemik ini bermula dari aduan produser film Nicki R.V. dari 786 Production kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pada 25 Mei 2026.

Dalam aduannya, Nicki R.V. menyoroti dominasi sejumlah rumah produksi besar yang dinilai lebih mudah mendapatkan jadwal tayang. Ia menyebut nama-nama seperti MD Pictures, Starvision, Multivision, hingga Falcon, yang disebut mampu menayangkan hingga 8 sampai 11 film dalam setahun. Sementara itu, sineas independen dan produser lain diklaim kesulitan memperoleh slot tayang, bahkan setelah mengajukan permohonan jauh-jauh hari.

Persoalan ini semakin meruncing setelah film produksi 786 Production dilaporkan gagal mendapatkan jadwal tayang pada Agustus 2026. Padahal, pengajuan penayangan film tersebut diklaim sudah dilakukan sejak November 2025.

Ernest Prakasa Beri Penjelasan: Mekanisme Pasar, Bukan Kecurangan

Di tengah polemik yang memanas, sineas sekaligus komika Ernest Prakasa turut memberikan pandangannya. Melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Ernest mencoba menjelaskan sistem pemilihan film di bioskop dari sudut pandang mekanisme pasar.

Untuk mempermudah pemahaman, Ernest mengibaratkan bioskop seperti sebuah warung dengan rak display yang terbatas. Menurutnya, bioskop harus memilih “produk” yang paling berpotensi menarik pembeli agar operasional bisnis tetap berjalan.

“Jadi dengan display lu yang terbatas itu, lu harus pilih benar-benar barang-barang yang memang orang akan beli gitu. Karena kalau nggak, dia akan makan tempat lu yang sangat terbatas itu,” kata Ernest Prakasa dalam videonya, dikutip Senin (25/5/2026).

Ia melanjutkan, “Seperti analogi warung tadi, bioskop tuh cuma punya satu tujuan: gimana caranya layar-layar yang terbatas ini menghasilkan sebanyak mungkin tiket. Karena mahal, Bro. Operasionalnya mahal, sehingga dengan operasional mahal itu, gimana caranya layar-layar ini bisa menghasilkan sebanyak mungkin tiket (terjual)?”

Ernest menjelaskan bahwa reputasi rumah produksi menjadi salah satu faktor krusial yang membuat film tertentu lebih dipercaya oleh pihak bioskop. Publik, menurutnya, biasanya sudah memiliki ekspektasi kualitas terhadap rumah produksi besar yang karya-karyanya dikenal luas.

“Ketika ngelihat brand-nya, orang udah tahu, ‘Oh, iya, gue tahu nih produk-produk mereka sebelumnya, dan gue suka, dan gue percaya kualitasnya pasti oke.’ Bukan berarti brand baru tidak bisa oke, tapi kepercayaan orang belum ada, kira-kira gitu ya,” ucap Ernest.

Selain nama besar, promosi juga disebut sebagai faktor penentu dalam persaingan slot layar bioskop. Ernest mengungkapkan bahwa rumah produksinya bahkan menyiapkan promosi besar-besaran untuk film Agak Laen 2. Upaya promosi tersebut mencakup mendatangi lebih dari 50 podcast dan program media.

“Kita siapin kegiatan promo untuk datang ke podcast-podcast itu lebih dari 50 podcast. Kebayang nggak, lu? Podcast dan televisi dan program-program lah, ya. Itu lebih dari 50,” ungkapnya.

Meski demikian, Ernest mengakui bahwa ada pula film dengan promosi minim yang berhasil meraih sukses besar berkat viral dari mulut ke mulut. Namun, ia menegaskan bahwa kasus semacam itu masih tergolong anomali dalam industri perfilman.

Di akhir penjelasannya, Ernest Prakasa menegaskan bahwa sistem pemilihan layar bioskop saat ini bukan terjadi karena suap atau permainan curang. Ia menyimpulkan bahwa mekanisme pasar adalah faktor utama yang memengaruhi keputusan bioskop.

“Menurut gue sih bukan curang ya, tapi memang bioskop cenderung lebih percaya pada nama besar dari segi PH (rumah produksi) dan produser,” pungkasnya.