ROMA – Indonesia menjadi sorotan utama di markas besar Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) di Roma, Italia, melalui pameran kuliner bertajuk “Flavours of the Archipelago: From Smart Farms to Diverse Foods”. Kegiatan yang diselenggarakan pada Rabu, 1 Juli 2026, di Foods Lab, FAO Museum, ini merupakan kolaborasi antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Roma dan Kantor Perwakilan FAO di Indonesia, sebagai bagian dari Konferensi Global FAO tentang Pertanian Cerdas.

Duta Besar RI untuk Italia dan PBB di Roma, Junimart Girsang, dalam keterangannya pada Kamis, 2 Juli 2026, menekankan bahwa sistem pangan dan pertanian yang kuat adalah fondasi masyarakat tangguh. “Keanekaragaman Indonesia yang luar biasa tercermin dalam kekayaan budaya dan tradisinya, termasuk dalam tradisi kuliner dan pertanian kita,” ujar Dubes Girsang.

Menurut Dubes Girsang, Indonesia meyakini bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan seiring. Inovasi dapat memanfaatkan pengetahuan lokal, warisan, dan tradisi untuk membangun sistem pangan yang lebih kuat dan berkelanjutan, serta lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan populasi sekitar 290 juta jiwa, Indonesia menghadapi kebutuhan mendesak untuk memajukan sistem agripangan, salah satunya dengan mendorong petani mengadopsi solusi pertanian cerdas.

Direktur Divisi Produksi dan Perlindungan Tanaman FAO, Yurdi Yasmi, menyoroti berbagai tantangan agripangan global yang kian mendesak. Tantangan tersebut meliputi perubahan iklim, degradasi tanah dan air, kenaikan harga alat dan bahan seperti pupuk, serta berbagai kendala tenaga kerja yang kini dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia.

“Pertanian cerdas menjadi solusi di tengah berbagai tantangan yang tengah dihadapi sektor pangan dan pertanian. Dengan memanfaatkan data terkini, berbagai teknologi, intervensi yang mengedepankan presisi, serta otomatisasi, kita dapat mengambil keputusan yang lebih tepat untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Yasmi.

Yasmi menambahkan, sama halnya dengan makanan yang membutuhkan keseimbangan antara bumbu dan bahan, pertanian cerdas juga memerlukan perpaduan seimbang antara sains, inovasi, dan pengetahuan masyarakat lokal. “Tentunya dengan memperhatikan kondisi pertanian, lingkungan, ekonomi dan sosial masyarakat setempat,” ujarnya.

Kisah Sukses Pertanian Cerdas dari Nusantara

Pameran ini juga menampilkan berbagai kisah sukses produksi pangan dari berbagai daerah di Indonesia yang telah dibina melalui program kerja sama pemerintah Indonesia dan FAO. Di antaranya adalah produsen sagu di Provinsi Papua, desa perikanan cerdas di Jawa Barat, petani cabai di Pulau Sumatera, dan petani pisang yang memanfaatkan pertanian presisi di Jawa Timur.

Untuk menyajikan pengalaman kuliner autentik, sagu yang digunakan dalam acara tersebut didatangkan langsung dari petani lokal di Indonesia, sebagai salah satu sumber daya pangan yang tahan perubahan iklim.

Hidangan pertama yang disajikan adalah papeda dengan sup ikan tuna kuning, menonjolkan sagu sebagai makanan pokok tahan perubahan iklim dari Indonesia Timur. Disajikan dengan kaldu tuna yang harum berinfusi kunyit dan rempah lokal, hidangan ini merefleksikan kekayaan tradisi makanan dan sumber daya perairan berkelanjutan di wilayah tersebut.

Hidangan utama lainnya adalah mi sagu goreng pedas, yang menunjukkan keragaman olahan sagu sebagai sumber makanan lokal yang bergizi dan berkelanjutan. Sebagai hidangan penutup, para tamu menikmati eurimoo, hidangan manis tradisional dari sagu dan pisang matang, yang merayakan keanekaragaman hayati Indonesia, termasuk pisang mas kirana dari Jawa Timur.

Setelah menyaksikan proses memasak, para peserta diundang untuk mencicipi berbagai hidangan berbahan dasar sagu. Sambutan hangat dan kesan mendalam datang dari para peserta.

“Harus saya akui meskipun saya tidak suka mie pada umumnya, tetapi saya terkejut bahwa saya bisa menyukai mie yang terbuat dari sagu ini. Rasanya segar, dan bisa disajikan sebagai salad, rasanya tidak terlalu berat,” ujar seorang peserta dari Rwanda.

Olahan mi sagu juga mendapat pujian dari peserta asal Jepang karena “keseimbangan rasa manis dan pedasnya”. Sambutan positif ini menegaskan daya tarik luas masakan berbahan dasar sagu sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara.

Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, menyatakan, “Beragam hidangan khas Indonesia yang disuguhkan pada acara ini adalah wujud kemitraan jangka panjang antara pemerintah Indonesia, masyarakat setempat, dan FAO.” Ia menambahkan, “Kami menggabungkan tradisi, inovasi, dan tindakan nyata untuk mewujudkan produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan penghidupan yang lebih baik untuk semua—tanpa meninggalkan siapa pun.”

Program Unggulan Pertanian dan Perikanan

  • Di Desa Yoboi, Provinsi Papua, FAO dan Kementerian Pertanian RI mendukung komunitas lokal memodernisasi pengolahan sagu, memangkas waktu produksi dari beberapa hari menjadi sekitar lima jam.
  • Di Bogor, Jawa Barat, FAO bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI mentransformasi komunitas perikanan tradisional menjadi pusat produktivitas perikanan modern, sejalan dengan visi Ekonomi Biru Indonesia.
  • Program “Petani Keren” di Lampung, Sumatera, mendorong anak muda menggunakan teknologi rumah kaca dan pendekatan kewirausahaan optimal untuk menghasilkan cabai dan produk pangan lainnya.
  • FAO dan pemerintah juga mendukung petani pisang mas kirana di Lumajang, Jawa Timur, melalui inisiatif One Country One Priority Product (OCOP) dengan memperkenalkan teknologi pertanian presisi dan sistem pemantauan tanah berbasis internet of things (IoT), guna meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan melalui rekomendasi pemupukan yang tepat.