Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa upaya pelindungan anak di ruang digital harus berjalan beriringan dengan penumbuhan kembali budaya-budaya di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Meutya dalam audiensi bersama Badan Perfilman Indonesia di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat.
“Child online safety (ruang digital ramah anak) itu memang harus berbarengan kerjanya dengan menumbuhkan kembali budaya-budaya di Indonesia, termasuk nonton film dan ke bioskop,” ujar Meutya Hafid dalam keterangan pers yang diterima pada Kamis, 02 Juli 2026.
Meutya mengungkap bahwa tingkat kecanduan menjadi salah satu indikator risiko yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ruang Digital Aman dan Sehat (PP TUNAS). Menurutnya, fenomena infinite scrolling atau kecanduan menonton konten pendek dalam jumlah banyak membuat masyarakat, khususnya anak muda, kesulitan untuk menikmati konten berdurasi panjang seperti film.
Oleh karena itu, ia menilai pentingnya menghidupkan kembali budaya menonton film berdurasi satu hingga dua jam di kalangan generasi muda. “Dari infinite scrolling di mana orang nonton konten pendek dengan jumlah yang banyak, saya rasa menonton film satu sampai dua jam itu juga menjadi budaya yang perlu dihidupkan kembali di kalangan anak-anak muda kita yang mungkin sekarang untuk nonton lebih dari setengah jam saja sudah agak kelelahan,” jelas Meutya.
Lebih lanjut, Meutya menggarisbawahi bahwa PP TUNAS memiliki fungsi ganda, tidak hanya melindungi anak-anak tetapi juga mendukung berbagai sektor industri. “Dengan kita melindungi anak-anak, banyak industri yang justru bisa kita bantu dukung kembali. Industri penyiaran karena anak-anak sekarang sudah jarang sekali menonton TV, industri cetak supaya anak-anak baca lagi buku, supaya anak-anak nonton lagi film dengan waktu yang cukup panjang agar konsentrasi mereka terlatih,” imbuhnya.
Meutya juga menambahkan bahwa semangat perusahaan-perusahaan global untuk mematuhi PP TUNAS didasari oleh keyakinan bahwa perbaikan yang mereka lakukan akan menciptakan industri yang lebih sehat. “Perusahaan-perusahaan global cukup bersemangat untuk comply dan melihat apa yang mereka bisa lakukan untuk mendukung anak-anak, tidak hanya di Indonesia, tapi di dunia, karena upaya ini akan menghasilkan industri yang sehat,” tandasnya.
