DENPASAR – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Denpasar memastikan seluruh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner yang berpartisipasi dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 kloter kedua aman dari bahan berbahaya. Kepastian ini diperoleh setelah BBPOM melakukan uji sampel terhadap sejumlah produk makanan yang dijual.
Ketua Tim Informasi dan Komunikasi BBPOM di Denpasar, Ni Putu Ekayani, menyatakan hasil pengujian cepat menunjukkan tidak adanya penambahan bahan berbahaya pada makanan. “Dari hasil pengujian cepat kami tadi, diperoleh hasil bahwa tidak ada bahan berbahaya yang ditambahkan pada makanan yang dijual di area kuliner PKB kali ini, untuk pedagang tahap dua aman,” ujar Ekayani di Denpasar, Kamis.
BBPOM mengambil 18 jenis makanan sebagai sampel untuk pengujian. Sampel tersebut meliputi kerupuk, ikan teri, sate cumi, sambal terasi, bakso, tahu, sate ikan, es biji, mie basah, dan laklak atau jajan khas Bali. Jenis-jenis makanan ini dipilih karena paling dicurigai berpotensi mengandung bahan berbahaya.
Potensi bahan berbahaya yang diwaspadai antara lain formalin pada cumi dan bakso, boraks pada laklak, serta rhodamin b pada terasi dan biji es cendol. Ekayani menegaskan, “Hampir semua pedagang kami sudah ambil sampelnya, jadi aman tidak ada bahan berbahaya seperti formalin, boraks, pewarna tekstil rhodamin b dan metanil yellow, itu tidak ada.”
Selain memastikan keamanan dari bahaya kimia, BBPOM juga menjamin keamanan dari segi bahaya fisik dan biologi melalui pemeriksaan langsung di lapangan. Jika pada kloter pertama (13-27 Juni 2026) masih ditemukan pelaku usaha yang belum menggunakan alat kelengkapan memasak seperti celemek, sarung tangan, masker, dan penutup kepala, pada kloter kedua ini terpantau sudah menjalankan standar tersebut.
“Ini adalah untuk menghindari bahaya fisik, jadi bahaya kimia sudah kita uji pakai alat reagen, secara fisik dengan menggunakan pelindung diri tadi sudah aman jadi tidak ada lagi rambut yang jatuh ke makanan, kemudian bahaya biologi juga sama mereka pakai tempat sampah berpenutup dan makanan ditutup tanpa ada lalat yang hinggap,” jelas Ekayani.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bali, Tri Arya Dhyana Kubontubuh, menyampaikan apresiasinya atas dukungan berkelanjutan BBPOM dalam memastikan keamanan kuliner UMKM di PKB 2026. Ia menyebutkan, jumlah stan UMKM kuliner tahun ini mencapai 72 lapak, lebih banyak dari tahun 2025, yang dibagi menjadi dua kloter untuk menghindari kepadatan area kuliner.
Evaluasi dari kloter pertama menjadi pembelajaran penting bagi kloter kedua, khususnya dalam penerapan standar keamanan fisik dan biologi. “Walaupun kloter pertama sebenarnya sudah relatif baik kita lakukan penerapan hal-hal tersebut, kloter kedua tetap belajar dari pengalaman pertama, tentu akan bisa lebih bagus lagi,” ucap Tri Arya Dhyana Kubontubuh.
Pemerintah juga menyatakan keyakinannya bahwa UMKM kuliner yang terpilih, terutama 36 pelaku usaha di kloter kedua, tidak akan menambahkan bahan kimia berbahaya pada produk mereka. Hal ini dikarenakan mereka adalah usaha yang telah berdiri lama dan dikenal menjual produk lokal Bali, bukan pelaku usaha pemula, sehingga kualitasnya sudah terjamin.
