Komisi Media dan Komunikasi Korea (KMCC) dilaporkan tengah mempertimbangkan penarikan kembali dana dukungan promosi global untuk drama Perfect Crown. Keputusan ini menyusul kontroversi distorsi sejarah yang menyeret produksi drama tersebut.

Sebelumnya, Perfect Crown terpilih sebagai salah satu proyek unggulan dalam ajang promosi konten Korea yang diselenggarakan bersamaan dengan Cannes International Series Festival. Drama ini dipromosikan kepada pembeli internasional bersama judul lain seperti Filing for Love, Bloody Flower, dan Gokdu.

Program dukungan tersebut merupakan hasil kerja sama antara KMCC dengan Korea Communications Agency (KCA), bertujuan membantu pemasaran global dan promosi internasional drama Korea di berbagai platform luar negeri.

Polemik Distorsi Sejarah

Peninjauan dana dukungan ini dilakukan setelah polemik besar terkait kesalahan sejarah mencuat. Pemerintah disebut sedang mempelajari kemungkinan penerapan klausul terkait ā€œkontroversi sosialā€ dan ā€œkerugian terhadap kepentingan publikā€ dalam perjanjian pendanaan.

Kontroversi bermula dari episode 11 yang tayang pada 15 Mei lalu. Dalam adegan penobatan karakter utama, pejabat kerajaan menggunakan seruan ā€œcheonseā€ atau ā€œpanjang umur rajaā€ yang dinilai tidak sesuai dengan status negara merdeka Korea. Penonton menyoroti bahwa secara sejarah, ā€œmanseā€ lebih tepat digunakan bagi penguasa negara berdaulat.

Selain itu, karakter raja juga terlihat mengenakan mahkota sembilan untaian giok yang identik dengan negara bawahan. Padahal, mahkota dua belas untaianlah yang melambangkan kekaisaran independen.

Meskipun drama ini berlatar dunia fiksi berupa Korea modern dengan sistem monarki konstitusional, banyak penonton menilai tim produksi terlalu ceroboh dalam menggunakan simbol sejarah Korea. Kritik kemudian berkembang luas hingga pengaduan resmi diajukan ke Korea Creative Content Agency dan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan.

Tanggapan dan Permintaan Maaf

Menanggapi kritik tersebut, tim produksi Perfect Crown menyampaikan permintaan maaf resmi pada 16 Mei. Mereka mengakui kurangnya pertimbangan terhadap konteks sejarah saat membangun dunia cerita drama tersebut.

Pihak produksi juga menyatakan akan segera melakukan revisi pada bagian kontroversial untuk penayangan ulang, layanan VOD, dan platform OTT. Perubahan itu mencakup perbaikan audio maupun subtitle agar lebih sesuai dengan konteks sejarah Korea.

Tak hanya tim produksi, dua pemeran utama drama ini, IU dan Byeon Woo Seok, juga ikut menyampaikan permintaan maaf kepada publik pada 18 Mei. Polemik ini bahkan menuai perhatian dari akademisi seperti Profesor Seo Kyoung Duk dan pengajar sejarah Choi Tae Sung yang mengkritik minimnya konsultasi sejarah dalam proses produksi.

Rating Tetap Tinggi di Tengah Badai Kontroversi

Di tengah kontroversi yang memanas, Perfect Crown tetap mencatat pencapaian besar dari sisi rating. Episode terakhir drama ini berhasil meraih rating nasional sebesar 13,8 persen menurut Nielsen Korea, menjadikannya program paling banyak ditonton pada hari penayangannya.