Kontroversi drama Korea Perfect Crown semakin memanas setelah petisi penghapusan serial tersebut resmi masuk agenda pembahasan Majelis Nasional Korea Selatan. Petisi ini muncul di tengah tudingan distorsi sejarah dan penyisipan unsur budaya China yang dianggap berlebihan dalam drama tersebut.
Pemohon menuding drama yang diyakini sebagai Perfect Crown telah menampilkan elemen budaya China secara berlebihan, meskipun berlatar kerajaan Korea fiktif. Mereka menilai penggunaan kostum, istilah, hingga tata krama ala China telah menyesatkan persepsi publik terhadap identitas budaya Korea Selatan.
“Drama yang saat ini tayang itu secara sembarangan meminjam pakaian, norma, dan kosakata bergaya China sehingga jelas melakukan apropriasi budaya dan distorsi sejarah,” tulis pemohon dalam petisi tersebut.
Salah satu adegan yang paling menuai kritik adalah penggunaan slogan “Cheonse (千歲)” dalam lingkungan kerajaan drama tersebut. Pemohon menilai istilah itu identik dengan negara bawahan kekaisaran China dan tidak pantas digunakan dalam konteks budaya Korea. Kontroversi lain muncul dari adegan upacara minum teh yang dianggap sangat menyerupai tradisi istana China, mengabaikan budaya teh tradisional Korea.
Pada Selasa, 26 Mei 2026, petisi publik yang diunggah melalui situs elektronik Majelis Nasional Korea berhasil melampaui 50 ribu tanda tangan. Dengan capaian itu, petisi otomatis memenuhi syarat untuk ditinjau secara resmi oleh komite terkait di parlemen Korea Selatan. Petisi berjudul “Permohonan Penghentian Penayangan dan Penghapusan Konten Drama yang Kontroversial karena Distorsi Sejarah dan Isu Northeast Project” pertama kali dipublikasikan pada 22 Mei 2026.
Dalam aturan Majelis Nasional, petisi publik akan dibahas jika berhasil mengumpulkan minimal 50 ribu dukungan dalam waktu 30 hari. Petisi tersebut turut meminta penghentian penayangan drama dan penghapusan total dari layanan VOD maupun OTT. Selain itu, mereka mendesak pemerintah membuat aturan yang lebih ketat agar konten serupa tidak kembali diproduksi di masa depan.
Meskipun nama drama dalam petisi hanya ditulis sebagai “OOOO OOOO”, publik meyakini serial yang dimaksud adalah Perfect Crown. Dugaan itu menguat karena rincian kontroversi yang disebut sangat identik dengan polemik drama yang dibintangi IU dan Byeon Woo Seok tersebut.
Di tengah polemik yang terus berkembang, Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan juga disebut tengah meninjau dukungan pendanaan produksi untuk drama itu. Perfect Crown sebelumnya masuk dalam program bantuan produksi konten OTT 2025 dari Korea Creative Content Agency dengan total anggaran proyek mencapai 7,5 miliar Won.
Pihak produksi sendiri telah menyampaikan permintaan maaf bersama sutradara Park Joon Hwa, penulis Yoo Ji Won, serta para pemain utama termasuk IU dan Byeon Woo Seok. Tim produksi juga berjanji segera merevisi audio dan subtitle bermasalah untuk penayangan ulang maupun layanan streaming di OTT.
