Ucapan “Minal Aidzin Wal Faizin” telah menjadi frasa tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia. Keunikannya terletak pada penyandingannya yang hampir selalu dengan “Mohon maaf lahir dan batin”, membentuk satu kesatuan yang mentradisi. Namun, pernahkah kita menelisik lebih jauh makna sebenarnya dari frasa tersebut dan mengapa kebiasaan ini tidak lazim ditemukan di negara-negara lain?
Hanni Sofia, dalam tulisannya di Antara, menyoroti bahwa frasa “Minal Aidzin Wal Faizin” sejatinya tidak terlalu umum digunakan di kawasan Timur Tengah. Asal-usulnya diyakini berasal dari ungkapan berbahasa Arab yang lebih panjang, yakni “Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin”.
Secara harfiah, ungkapan tersebut memiliki arti “Semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan menang.” Makna ini sangat relevan dengan semangat Idul Fitri, yakni kembali kepada kesucian setelah sebulan penuh berpuasa dan meraih kemenangan dalam menahan hawa nafsu.
Jejak Sejarah dari Perang Badar
Sejarah panjang ungkapan “Minal Aidzin Wal Faizin” disebut-sebut berkaitan erat dengan Perang Badar. Pertempuran antara umat Islam dan kaum Quraisy ini menjadi latar belakang perayaan Idul Fitri pertama.
Berdasarkan berbagai sumber, Idul Fitri pertama kali dirayakan pada tahun 624 Masehi atau tahun kedua Hijriah, yang bertepatan dengan berakhirnya Perang Badar. Kemenangan umat Islam dalam perang tersebut diyakini menjadi salah satu inspirasi di balik semangat “kembali dan menang” dalam frasa tersebut.
Syair Al-Andalus dan Shafiyuddin Al-Huli
Selain kaitan dengan Perang Badar, beberapa sumber lain mengemukakan bahwa ungkapan “Minal Aidzin Wal Faizin” berasal dari syair yang berkembang pada masa Al-Andalus, sebuah wilayah bersejarah yang kini meliputi Spanyol dan Portugal. Syair ini disebut-sebut ditulis oleh Shafiyuddin Al-Huli.
Dalam kitab “Dawawin Asy-Syi’ri al-Arabi ala Marri Al-Ushur” (jilid 19, halaman 182), ungkapan tersebut tercatat sebagai bagian dari nyanyian yang kerap dibawakan oleh para perempuan saat merayakan hari raya. Hal ini menunjukkan bahwa frasa tersebut memang memiliki akar kuat dalam tradisi perayaan dan kegembiraan.
Adaptasi dan Pergeseran Makna di Indonesia
Ketika diadopsi di Indonesia, frasa “Minal Aidzin Wal Faizin” mengalami pemendekan dari bentuk aslinya. Proses adaptasi ini juga seolah membawa pergeseran makna, terutama dengan penyandingannya yang tak terpisahkan dengan “Mohon maaf lahir dan batin”.
Fenomena ini menjadikan ucapan Lebaran di Indonesia memiliki karakteristik unik yang memadukan doa kembali ke fitrah dan kemenangan spiritual dengan tradisi saling memaafkan secara lahir dan batin, mencerminkan nilai-nilai budaya lokal yang kuat.
