Rektor Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat, Prof. Sukardi, menegaskan bahwa penerapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di kampusnya didasarkan pada prinsip keadilan. Kebijakan ini secara khusus mempertimbangkan kondisi ekonomi mahasiswa sesuai ketentuan yang berlaku, memastikan akses pendidikan tinggi tetap terbuka bagi semua.

Menyikapi isu mengenai besarnya UKT, Prof. Sukardi menyatakan,

“Unram berkomitmen agar tidak ada mahasiswa yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi hanya karena keterbatasan ekonomi. Namun, harus jujur menyampaikan data,”
ujarnya di Mataram, Kamis (02/07/2026).

Ia menjelaskan, UKT bukan sekadar angka, melainkan instrumen untuk menghadirkan keadilan. Mahasiswa dengan kemampuan ekonomi lebih baik diharapkan berkontribusi sesuai kemampuannya, sementara mereka yang kurang mampu tetap memperoleh hak yang sama untuk belajar dan meraih masa depan.

Unram bertekad membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, di mana kualitas pendidikan tinggi dapat diakses oleh seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang ekonomi. “Bahkan pada program studi kedokteran, kami memastikan mahasiswa berprestasi dan keluarga kurang mampu tetap memiliki peluang yang sama untuk belajar dan mengabdi pada masyarakat,” kata Prof. Sukardi.

Menurutnya, keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik dan riset, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan akses pendidikan yang adil bagi masyarakat. “Sebab, investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun manusia,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Unram akan terus memperkuat kebijakan pembiayaan pendidikan tinggi yang berkeadilan. Hal ini bertujuan agar setiap mahasiswa yang memiliki potensi dapat berkembang tanpa dibatasi kondisi ekonomi keluarganya.

Melalui kebijakan ini, Unram menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi negeri yang tidak hanya mengejar keunggulan akademik, tetapi juga mengedepankan pemerataan akses pendidikan. Setiap mahasiswa diharapkan memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berprestasi, dan memberikan kontribusi bagi daerah, bangsa, dan dunia.

Sebagai salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia timur, Unram terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif dan berkeadilan. “Melalui kebijakan UKT yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mahasiswa, Unram berupaya memastikan bahwa keterbatasan finansial tidak menjadi penghalang untuk mengenyam pendidikan tinggi,” tegasnya.

Data Penerapan UKT Unram

Berdasarkan data Unram, sekitar 42 persen mahasiswa membayar UKT pada kelompok terendah, yakni berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per semester. Angka ini belum termasuk mahasiswa kelompok UKT III yang mencapai sekitar 30 persen.

“Kebijakan ini mencerminkan komitmen Unram dalam menjaga akses pendidikan tinggi yang terjangkau, khususnya bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas,” ujar Prof. Sukardi.

Selain itu, sebanyak 690 mahasiswa memperoleh pembebasan UKT sehingga tidak dikenakan biaya kuliah sama sekali. Dari jumlah tersebut, 13 mahasiswa berasal dari Program Studi Kedokteran. Ini menunjukkan bahwa kesempatan menempuh pendidikan pada program studi unggulan tetap terbuka bagi mahasiswa berprestasi yang memenuhi persyaratan bantuan pembiayaan.

Dukungan Inovasi dan Prestasi Mahasiswa

Selain memberikan akses pendidikan terjangkau, Unram juga menyediakan berbagai insentif untuk mendorong budaya inovasi, riset, kewirausahaan, dan prestasi mahasiswa. Bentuk dukungan tersebut meliputi:

  • Pembebasan UKT selama dua semester bagi mahasiswa program sarjana, magister, dan doktor yang berhasil mempublikasikan karya ilmiah jurnal internasional bereputasi.
  • Pemberian insentif publikasi hingga Rp10 juta bagi mahasiswa yang berhasil menerbitkan artikel jurnal internasional bereputasi.
  • Pendanaan hingga Rp6 juta untuk mendukung pengembangan start-up mahasiswa serta inovasi yang berorientasi penyelesaian persoalan nyata di dunia industri.
  • Penghargaan hingga Rp4 juta bagi mahasiswa yang berhasil meraih Juara I ajang kompetisi, termasuk mahasiswa yang mengikuti program magang, pertukaran, atau kegiatan akademik sejenis di perguruan tinggi maupun industri di luar negeri.

“Berbagai bentuk apresiasi dan dukungan itu tidak hanya ditujukan untuk mendorong tumbuhnya budaya inovasi, prestasi, dan pengalaman internasional mahasiswa, tetapi juga untuk membantu meringankan beban pembiayaan selama menjalani kegiatan akademik dan pengembangan kompetensi,” pungkasnya.