Drama Korea ‘Perfect Crown’ kembali menjadi sorotan tajam setelah petisi daring yang menuntut penghapusan serial tersebut dari platform Over-The-Top (OTT) terus mengumpulkan dukungan signifikan. Hingga Sabtu, 24 Mei 2026, pukul 17.00 KST, petisi tersebut dilaporkan telah melampaui 30.000 tanda tangan, memicu kekhawatiran akan nasib penayangannya.

Petisi ini diunggah melalui laman resmi petisi publik Majelis Nasional Korea Selatan sejak 22 Mei lalu. Dengan judul “Permintaan penghentian penayangan dan penghapusan konten karena distorsi sejarah dan dugaan revisi sejarah bergaya Dongbei,” dukungan yang masuk bahkan telah melewati ambang persetujuan 60 persen dalam waktu singkat.

Penggagas petisi menilai drama produksi MBC tersebut terlalu banyak menggunakan elemen budaya Tiongkok, meskipun berlatar dunia fiksi Korea. Hal ini disebut sebagai bentuk distorsi sejarah sekaligus apropriasi budaya yang memicu keresahan publik.

Menurut isi petisi, ‘Perfect Crown’ dinilai menampilkan kostum, tata krama, hingga penggunaan bahasa yang dianggap menyerupai budaya kekaisaran Tiongkok. Pemohon juga mendesak agar drama tersebut segera dihentikan penayangannya, serta seluruh konten terkait dihapus dari layanan VOD maupun platform OTT.

Kontroversi semakin memanas setelah episode 11 yang tayang pada 15 Mei menampilkan adegan penobatan Pangeran Ian, yang diperankan oleh Byeon Woo Seok. Dalam adegan tersebut, karakter memakai mahkota seremonial yang identik dengan negara bawahan kekaisaran Tiongkok. Tak hanya itu, sejumlah karakter juga terlihat melakukan ritual dengan nyanyian yang dianggap menyerupai budaya istana kekaisaran Tiongkok kuno. Banyak penonton kemudian mengaitkan drama ini dengan narasi “Dongbei Project” yang selama ini sangat sensitif di Korea Selatan.

Petisi tersebut turut mengutip Pasal 5 Undang-Undang Penyiaran Korea Selatan. Dalam aturan itu disebutkan bahwa tayangan penyiaran seharusnya memperkuat identitas nasional dan membangun sentimen publik yang sehat.

Menanggapi kritik publik, tim produksi ‘Perfect Crown’ telah menyampaikan permintaan maaf resmi. Mereka juga melakukan revisi pada episode terkait dengan menghilangkan subtitle dan membisukan beberapa bagian audio kontroversial. Sutradara dan penulis drama turut menyampaikan penyesalan melalui wawancara serta pernyataan resmi. Bahkan para pemain utama, termasuk IU dan Byeon Woo Seok, juga ikut meminta maaf atas polemik yang terjadi.

Meski begitu, perdebatan publik masih belum mereda hingga kini. Sebagian pihak menilai revisi episode tidak cukup dan tetap meminta drama dihapus total, sementara lainnya menganggap tuntutan pembatalan terlalu berlebihan dan meminta publik mempertimbangkan nilai artistik karya tersebut.

Petisi itu sendiri akan terus dibuka hingga 21 Juni mendatang. Jika berhasil mencapai 50.000 dukungan dalam 30 hari, kasus tersebut akan resmi dibahas oleh komite terkait di Majelis Nasional Korea Selatan.