Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan bahwa kenaikan impor barang modal pada Mei 2026 menjadi indikasi positif bagi penguatan aktivitas investasi dan kapasitas produksi nasional. Pernyataan ini disampaikan Budi di Jakarta pada Jumat, 03 Juli 2026, menyoroti data terbaru dari Kementerian Perdagangan (Kemendag).

“Kenaikan impor barang modal mencerminkan menguatnya aktivitas investasi dan kapasitas produksi nasional. Hal ini diharapkan dapat mendukung peningkatan daya saing industri serta ekspor Indonesia ke depan,” ujar Budi.

Data Kemendag menunjukkan impor barang modal melonjak signifikan sebesar 21,12 persen secara bulanan pada Mei 2026, jauh melampaui kenaikan 6,33 persen yang tercatat pada April 2026. Meskipun demikian, nilai impor Indonesia secara keseluruhan pada Mei 2026 mencapai 24,81 miliar dolar AS, turun 1,59 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan bulanan ini terjadi seiring dengan melemahnya impor migas dan nonmigas. Budi menjelaskan, pelemahan impor pada Mei 2026 terutama disebabkan oleh penurunan impor barang konsumsi sebesar 8,42 persen dan bahan baku/penolong sebesar 5,72 persen dibandingkan April 2026.

Secara kumulatif, nilai impor Indonesia selama periode Januari-Mei 2026 mencapai 111,33 miliar dolar AS, menunjukkan pertumbuhan 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini didukung oleh impor migas yang tumbuh 27,89 persen dan nonmigas sebesar 13,16 persen.

Berdasarkan golongan penggunaan barang (BEC), seluruh komponen impor mengalami pertumbuhan. Barang modal tumbuh 17,53 persen, barang konsumsi 17,05 persen, dan bahan baku/penolong 14,41 persen.

Dari sisi komoditas, peningkatan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya yang melonjak 808,56 persen. Diikuti oleh garam, belerang, batu dan semen sebesar 73,94 persen, bijih logam, terak dan abu sebesar 58,63 persen, bahan bakar mineral sebesar 40,48 persen, serta berbagai produk kimia sebesar 34,94 persen.

Adapun negara asal impor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh Tiongkok, Jepang, dan Australia, dengan kontribusi gabungan mencapai 52,68 persen. Sementara itu, pertumbuhan impor nonmigas tertinggi berasal dari Meksiko yang meningkat 247,36 persen, Perancis 193,63 persen, dan Spanyol 88,33 persen.