Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai rencana ekspor beras Indonesia ke Singapura merupakan langkah strategis. Inisiatif ini berpotensi besar untuk menyerap surplus produksi beras domestik sekaligus memperkuat kerja sama pangan dan ketahanan pasok antara kedua negara.

Menurut Esther, prospek kolaborasi pangan antara Indonesia dan Singapura sangat menjanjikan. Kerja sama ini tidak hanya menguntungkan melalui penguatan perdagangan, tetapi juga menjamin ketahanan pasok serta optimalisasi kelebihan produksi nasional.

Solusi Surplus Produksi dan Diversifikasi Pasok

“Prospek kerja sama pangan Indonesia dan Singapura sangat strategis dan menjanjikan. Bagi Indonesia, ini menjadi solusi tepat untuk menyerap surplus produksi domestik,” ujar Esther saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis (02/07/2026).

Pernyataan Esther ini menanggapi tawaran ekspor beras yang disampaikan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kepada pemerintah Singapura. “Sementara bagi Singapura, kolaborasi ini memperkuat diversifikasi rantai pasok untuk memenuhi ketergantungan impor pangan mereka,” tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menawarkan ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura. Tawaran ini disampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (29/6). Langkah ini diambil seiring dengan stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai 5,1 juta ton.

Tantangan dan Peningkatan Kualitas

Meski prospeknya cerah, Esther mengingatkan bahwa Indonesia perlu mempersiapkan strategi ekspor secara matang. Hal ini mengingat ketatnya persaingan harga di pasar internasional, kondisi kelebihan pasokan global, serta tuntutan kualitas beras yang tinggi dari negara tujuan.

Ia menjelaskan bahwa mayoritas stok beras pemerintah saat ini masih berupa beras medium. Padahal, pasar ekspor tertentu, khususnya Singapura, cenderung membutuhkan beras premium. Oleh karena itu, peningkatan mutu beras menjadi langkah krusial untuk memperkuat daya saing nasional di kancah global.

Swasembada dan Kebutuhan Komoditas Lain

Esther juga mengapresiasi capaian swasembada beras saat ini sebagai kemajuan positif. Namun, ia menekankan bahwa fokus swasembada perlu diperluas. “Swasembada saat ini masih berfokus pada komoditas beras dan perlu diperluas menuju kemandirian kedelai, jagung pakan, serta daging sapi,” katanya.

Di sisi lain, harga beras di tingkat konsumen masih menghadapi sejumlah tantangan. Faktor-faktor seperti panjangnya rantai distribusi, tingginya biaya logistik, dan pengaruh cuaca ekstrem telah mendorong inflasi dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menambahkan, swasembada yang telah dicapai saat ini berlaku untuk beras konsumsi umum. Sementara itu, beras khusus seperti Basmati dan Japonica masih dipenuhi melalui impor sesuai kebutuhan industri tertentu.

Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, Esther berpandangan bahwa rencana ekspor beras ke Singapura memiliki prospek yang baik. Namun, hal ini harus dilakukan secara terukur dengan memperhatikan kecukupan pasokan domestik, peningkatan kualitas produk, serta keberlanjutan ketahanan pangan nasional.