Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengimbau para petani di wilayahnya untuk mengatur penggunaan air secara hemat dan efisien. Langkah ini merupakan bagian dari upaya antisipasi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan masih akan berlangsung panjang.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, mengakui bahwa El Nino bukanlah hal baru bagi petani setempat. “Sebenarnya untuk mengantisipasi El Nino ini sama seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Jadi, ada antisipasi yang sudah dilakukan sebelum kemarau tiba sudah disosialisasikan ke petani,” ujarnya di Mataram, Kamis, 02 Juli 2026.

Mirza menjelaskan, salah satu strategi utama yang digalakkan adalah percepatan masa tanam sebelum memasuki musim kemarau. Selain itu, petani didorong untuk menanam varietas padi genjah yang memiliki masa tanam singkat, yakni kurang dari 105 hari. “Itu yang kita dorong petani untuk mencegah gagal tanam,” tegas Mirza.

Selain pemilihan varietas, petani juga diminta untuk tidak memaksakan diri menanam komoditas yang tidak tahan air. Terkait pengelolaan air, pihaknya telah berkoordinasi dengan lintas instansi, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Balai Wilayah Sungai (BWS).

“Di situ BWS sudah memaparkan ketersediaan debit air sungai kita menurun. Di sini lah kearifan lokal kita untuk tidak memaksakan menanam yang lain. Tapi kalau dekat air silahkan saja,” kata Mirza, menekankan pentingnya adaptasi lokal.

Mirza menambahkan, komoditas pertanian di NTB masih banyak pilihan dan cukup tersedia tanpa harus bergantung pada air, seperti tembakau, kedelai, dan jagung. “Ini lah salah satu upaya kita agar perekonomian petani kita tetap berjalan,” ungkapnya.

Meskipun El Nino diperkirakan masih panjang, Mirza optimis bahwa fenomena ini tidak akan memengaruhi produktivitas komoditas pertanian di NTB, khususnya padi. Target produksi padi di NTB ditetapkan mencapai 1,7 juta ton gabah kering giling (GKG) untuk mendukung swasembada pangan nasional. “Bisa dilihat data BPS, angka produksi padi kita seperti apa. Tapi tetap kita berupaya dan selalu optimis,” ujarnya.

Produksi Padi NTB Meningkat Signifikan pada 2025

Optimisme tersebut didukung oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB. BPS mencatat produksi padi NTB pada tahun 2025 mencapai 1,71 juta ton GKG, meningkat 17,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 1,45 juta ton.

Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB, Muhammad Ahyar, menjelaskan bahwa peningkatan produksi padi sebanyak 255,21 ribu ton tersebut merupakan hasil dari penambahan luas panen dan berbagai intervensi pemerintah pada sektor pertanian.

“Luas panen padi pada 2025 mencapai 322,90 ribu hektare. Jumlah itu mengalami kenaikan sebesar 41,18 ribu hektare atau 14,62 persen dibandingkan luas panen padi di 2024 yang sebesar 281,72 ribu hektare,” papar Ahyar.

Tidak hanya gabah, BPS juga mencatat kenaikan signifikan pada produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk. Sepanjang tahun 2025, produksi beras di NTB mencapai 973,14 ribu ton, meningkat 17,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 827,79 ribu ton.